Anak Bisa Main HP 5 Jam, Tapi Olahraga 30 Menit Sudah Capek


Penulis

Munizar, S.Pd., Gr.
Kabid Organisasi Pengprov IGORNAS Aceh
Waka Kurikulum dan Guru Olahraga SMAN 7 Banda Aceh


Pernahkah kita melihat anak yang mampu bermain HP selama berjam-jam, tetapi ketika diajak berlari, bermain bola, atau berolahraga selama 30 menit langsung berkata, “Capek”? Fenomena ini semakin sering terjadi dan menjadi perhatian bagi orang tua, guru, termasuk guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK).

Teknologi memang membawa banyak manfaat. Anak dapat belajar melalui internet, menonton video edukasi, berkomunikasi, hingga bermain gim. Namun, masalah muncul ketika waktu di depan layar semakin panjang, sementara waktu untuk bergerak semakin sedikit.

Dulu, anak-anak sepulang sekolah langsung bermain di halaman. Bermain sepak bola, bersepeda, kejar-kejaran, bermain kelereng, petak umpet, hingga berbagai permainan tradisional menjadi aktivitas sehari-hari. Anak mungkin pulang menjelang sore dengan pakaian kotor dan tubuh berkeringat, tetapi mereka terbiasa bergerak.

Kini, pemandangan tersebut mulai berubah. Banyak anak lebih memilih berada di dalam rumah dengan HP di tangan. Bahkan, ketika berkumpul dengan teman, masing-masing sibuk dengan layar sendiri.

Akibatnya, tubuh anak semakin jarang digunakan untuk bergerak. Ketika harus berlari beberapa putaran di lapangan, melakukan pemanasan, atau mengikuti permainan selama beberapa menit, tubuh mereka lebih cepat merasa lelah. Bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena tubuh tidak terbiasa aktif.

Di sinilah peran orang tua dan guru menjadi sangat penting. Anak tidak harus dipaksa menjadi atlet. Namun, setiap anak perlu memiliki kebiasaan bergerak. Bermain bola, berjalan kaki, bersepeda, lompat tali, bermain permainan tradisional, atau sekadar bermain bersama teman di luar rumah dapat menjadi aktivitas sederhana yang bermanfaat.

Guru PJOK juga memiliki peran strategis untuk membuat aktivitas fisik menjadi menyenangkan. Pelajaran PJOK seharusnya tidak membuat anak takut atau merasa terbebani. Justru melalui permainan dan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan anak, guru dapat menumbuhkan kecintaan terhadap gerak dan olahraga.

HP bukan musuh. Teknologi juga tidak harus dijauhi. Yang perlu dibangun adalah keseimbangan. Anak boleh menggunakan teknologi, tetapi jangan sampai layar menggantikan lapangan, permainan menggantikan pertemanan, dan duduk terlalu lama menggantikan aktivitas fisik.

Karena itu, mungkin pertanyaannya bukan lagi mengapa anak cepat lelah saat berolahraga. Kita perlu bertanya:

Berapa lama sebenarnya anak-anak kita bergerak setiap hari?

Sebab anak yang aktif hari ini bukan hanya berpeluang menjadi atlet di masa depan, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang lebih sehat, bugar, percaya diri, dan siap menghadapi masa depan.

Mari kurangi sedikit waktu menatap layar, dan tambahkan lebih banyak waktu untuk bergerak. Sebab tubuh anak diciptakan bukan hanya untuk duduk, tetapi juga untuk bergerak. (red)