Menimbang Peluang dan Tantangan E-Sport
Ifwandi, S.Pd., M.Pd
Sekretaris Umum KONI Aceh Besar
Koordinator PJKR FKIP USK
Ketua Pengkab Perbasi Aceh Besar
Hari ini kita hidup di era penuh ironi. Dulu, anak yang kecanduan game dicap pemalas dan “tidak punya masa depan”. Kini, anak yang sama tiba-tiba disebut “atlet” hanya karena duduk berjam-jam di depan layar menatap ponsel atau komputer. Dunia menyebutnya E-Sport. Bahkan negara memberi pengakuan resmi: ia sah sebagai cabang olahraga prestasi.
Tapi pertanyaan mendasarnya: apakah ini benar-benar olahraga, atau sekadar legalisasi dari budaya kecanduan baru?
Mari kita bicara fakta.
Benar, E-Sport menghasilkan prestasi. Indonesia pernah berdiri di panggung dunia lewat Mobile Legends, Free Fire, hingga PUBG. Hadiah turnamen mencapai miliaran rupiah. Klub-klub besar menggaji pemain belasan juta per bulan. Bahkan sponsor global masuk dengan deras. Tidak ada yang bisa menolak: E-Sport adalah industri menggiurkan.
Namun, di balik gemerlap itu ada sisi gelap yang jarang dibicarakan. Ribuan anak muda bermimpi jadi pro player, mengorbankan sekolah, kesehatan, bahkan kehidupan sosialnya. Mereka begadang demi push rank, tapi tidak pernah menyadari bahwa dari seribu pemain, mungkin hanya satu yang benar-benar bisa hidup dari game. Sisanya? Tenggelam dalam ilusi.
Apakah ini yang kita sebut olahraga? Duduk 12 jam menatap layar, merusak mata, merusak postur tubuh, mengganggu pola tidur, lalu disamakan dengan atlet bulu tangkis atau sepak bola yang berlatih keras di lapangan, berkeringat, menjaga stamina, dan mengharumkan nama bangsa dengan tubuh sehat? Apakah ini sama seperti olahraga sepak bola, bola basket, dan olahraga lainnya yang selalu membutuhkan komponen kondisi fisik, yang perlu latihan rutin berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk mencapai level prestasi dunia?
Jika kita jujur, E-Sport lebih dekat ke industri hiburan ketimbang olahraga. Bedanya hanya satu: hiburan ini berhasil melobi negara, federasi, bahkan sponsor untuk mengangkatnya ke level prestasi. Padahal esensinya tetap sama: permainan digital yang berisiko menumpulkan generasi jika tidak dikelola dengan cerdas.
Namun, melarang E-Sport juga bukan jawaban. Dunia sudah terlanjur mengakuinya. Yang mendesak sekarang adalah membongkar ilusi: tidak semua gamer bisa jadi atlet. Tidak semua jam bermain adalah latihan. Dan tidak semua “juara mabar” bisa hidup dari game.
Jika pembinaan E-Sport tidak disertai disiplin olahraga nyata — latihan fisik, regulasi jam, pendampingan psikolog, dan jalur pendidikan — maka yang kita hasilkan bukanlah atlet, melainkan generasi lelah, obesitas, dan terjebak layar.
E-Sport memang membawa peluang devisa dan prestasi, tapi juga bisa menjadi racun halus yang menggerogoti masa depan anak muda. Karena itu, jangan buru-buru bangga ketika anak-anak kita juara mabar. Kita harus berani bertanya:
Apakah mereka sedang menuju podium prestasi, atau justru sedang perlahan dikorbankan demi industri hiburan yang dibungkus dengan label “olahraga”?
Sub.bidik24.com