Naturalisasi Bikin Bangga, Bakat Lokal ke Mana?

Ifwandi, S.Pd., M.Pd

Koordinator S1 PJKR FKIP USK

Sekum Koni Aceh Besar

Ketua Umum Perbasi Aceh Besar

Pagi ini publik Indonesia kembali disuguhi kabar gembira: timnas sepak bola semakin kuat dengan kehadiran pemain-pemain keturunan Belanda. Nama besar langsung menghiasi media, stadion penuh, euforia pun pecah. Naturalisasi seolah dianggap “jalan tol” menuju Piala Dunia.

Namun, mari kita tarik napas sejenak. Apakah naturalisasi benar-benar jawaban jangka panjang bagi prestasi olahraga Indonesia?

Tidak ada yang salah dengan naturalisasi. Banyak negara sukses melakukannya—Qatar juara Asia, Jepang pernah menggunakan pemain asing dalam masa transisi, bahkan Inggris punya sederet bintang berdarah campuran. Tetapi persoalan Indonesia jauh lebih dalam: jangan sampai naturalisasi hanya jadi tambal sulam tanpa pondasi kokoh.

Kita sering tergoda dengan hasil instan. Target medali emas di Piala AFF, SEA Games, hingga Asian Games seolah jadi tujuan utama. Padahal prestasi olahraga sejati dibangun dari proses panjang: pembinaan usia dini, sport science, manajemen atlet profesional, serta keberanian membangun sistem.

Pertanyaannya, jika kita terus mengandalkan naturalisasi, bagaimana nasib anak-anak berbakat dari Papua, Aceh, Kalimantan, atau Sulawesi? Apakah mereka hanya akan menjadi penonton di negaranya sendiri?

Ironisnya, di tengah gegap gempita perekrutan pemain asing, diskusi soal sport science justru sepi. Atlet kita masih sering berlatih dengan metode lama, minim data, tanpa dukungan teknologi modern—mulai dari analisis biomekanik, gizi atlet yang terukur, hingga psikologi olahraga.

Padahal, Kemenpora baru saja menggandeng LPDP menyediakan beasiswa untuk atlet, pelatih, dan tenaga olahraga melanjutkan studi S2 dan S3. Sebuah langkah maju, meski tantangan sesungguhnya adalah: apakah ilmu mereka benar-benar akan dipakai dalam sistem? Atau justru terkalahkan oleh politik olahraga yang penuh kepentingan?

Harus diingat, prestasi modern lahir dari sains, bukan sekadar keringat. Tanpa riset, laboratorium, dan data, bakat alam sehebat apapun akan kalah oleh sistem yang terukur.

Indonesia bahkan akan menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025—pertama kalinya di Asia Tenggara. Sebuah kehormatan besar. Tapi lagi-lagi muncul pertanyaan: jangan-jangan ini hanya akan jadi pesta semalam? Kita terlalu sering terjebak dalam “event syndrome”: ramai saat acara, lalu sepi begitu lampu padam.

Opini ini bukan menolak naturalisasi. Justru sebaliknya, naturalisasi bisa menjadi solusi jangka pendek. Tetapi kunci sejatinya ada pada keseimbangan: memperkuat timnas lewat pemain asing, sambil tetap membangun pembinaan akar rumput.

Apa yang harus dilakukan?

  1. Membangun kurikulum olahraga terstruktur sejak SD.
  2. Menyediakan pusat riset olahraga di tiap provinsi.
  3. Memberi jaminan karier atlet: dari asuransi, beasiswa, hingga pelatihan pasca pensiun.
  4. Dan yang paling penting: berani memutus lingkaran politik olahraga yang menghambat prestasi.

Naturalisasi bisa memberi kemenangan hari ini. Tetapi membangun sistem pembinaan, memperkuat sport science, dan mendidik tenaga profesional adalah investasi menuju Indonesia Emas 2045.

Jadi, mari kita bertanya sebagai bangsa: apakah kita mau puas dengan euforia sesaat, atau berkomitmen menciptakan warisan prestasi yang abadi?